BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan jenis Polarisasi
Polarisasi adalah
keadaaan (orientasi) bidang getar dari
(medan listrik). Cahaya yang erpolarisasi ( cahaya alamiah) memiliki orinetasi E ke segala arah.
Arah ini dapat diuraikan menjadi 2, yaitu komponen sejajar bidang jatuh dan
tegak urus bidang jatuh dengan notasi
dan
.
Bidanga jatuh adalah bidang tempat sinar datang, sinar pantul, sianr bias, dan
garis normal berada. Macam-macam polarisasi:












Dengan
adalah beda fase relatif antara kedua
gelombang itu, dan kedua gelombang itu
merambat dalam arah
.
dan
adalah vektor satuan pada arah positif sumbu y
dan z. Resultan dari kedua gelombang tersebut adalah:





Sekarang kita bekerja dengan komponen
yaitu
dan
tanpa tanda vektor.





ü
,berarti
dan
memiliki
fase yang sama maka





Apabila persamaan
dibagi persamaan
akan
diperoleh



Jika
sejajar sumbu z dan
sejajar sumbu y, persamaan gelombang
resultannya adalah:



ü
.
Berarti
dan
berlawanan
fase (
).







Jika
dibagi
akan diperoleh



Persamaan gelombang resultannyadalh:

2.
Polarisasi lingkaran.
Apabila gelombang memiliki amplitudo tetap, tetapi arah medan beruabh-ubah.
Polarisasi ini terjadi apabila dua gelombang dengan amplitudo yang sama
bersuperposisi. Apabila vektor kedua optik pada persamaan sebelumnya memiliki
amplitudo yang sama besar yaitu
,
dan beda fase
untuk m= 0,1,2,.... atau
merupakan kelipatan ganjil dari
.




ü
,
untuk m=0, persamaan gelombang resultannya


Dengan komponen,








ü
,
untuk m=0. Persamaan gelombang resultanya:


Dengan
komponen:


Maka

Jadi,
.
Dikuadratkn menjadi


Tepat
sama dengan 

Kedua
gelombang resultan dengan
memiliki perbedaan arah putar. Besar amplitudo
tetap, tetapi arah putarnya berlawanan. Untuk
arah putar berlawanan jarum jam, sedangkan
untuk
arah putarnya searah jarum jam. Arah ini
dilihat pada proyeksi yang dibuat di x=0 dan arah rambat gelombang pada arah x
positif ke arah pengamat.



3.
Polarisasi Elips.sama
seperti polarisasi lingkaran, tetapi dengan amplitudo tidak selalu sama besar.
B. Polarisasi pada pemantulan dan pembiasan (Refleksi dan refraksi)
Hukum snellius untuk refleksi
dan refraksi memberikan keterangan mengeenaiarah dari sinar-sinar refleksi dan
refraksi. Akan tetapi hukum tersebut tidak dapt menerangkan apa-apa mengenai
intensitas dari sinar-sinar refleksi dan refraksi. Hal ini dapat diterangkan
dengan baik dengan menggunaka hukum Maxwell yang kemudian diturunkan menjadi
persamaan Fresnel.
Pada tahun 1809, Malus menemukan
bahwasanya cahaydapt dibuat terpolarisasi sempurna atau sebagian dengan cara
refleksi. Gambar di bawah in menunjukkan bahwa sinar tidak terpolarisasi jatuh
pada permukaan gelas, maka vektor
dari tiap rambatan gelombang (gelombang
datang, gelombang refleksi, dan gelombang refraksi) dapat kita uraikan atas dua
komponennya, yang tegak lurus pada bidang jatuh dan yang yang lain sejajar
dengan bidang jatuh (cukup dua arah ini yang kita pandang).

Pada
bahasan sebelumnya telah diuraikan secara rinci mengenai bermacam-macma harga
koefisienamplitudo. Ada hal menarik yang kita lewatkan saat itu yaitu harga
.
Apakah artinya
?
Bila harga
,
ini berarti tidak ada komponen
dari sinar refleksi yang sejajar pada bidang
jatuh. Jadi sinar refleksi hanya terdiri dari vektor
yang terletak pada satu bidang getar saja(
tegak lurus bidang jatuh). Sinar refleksi
adalah sinar yang terpolarisasi linear
sempurna. Perisiwa ini disebut polarisasi karena refleksi. Telah diketahui
bahwa
mencaai
nol, baik untuk
ataupun
jika terhadap hubungan:










Dari
hukum Snellius, 


Maka



Sudut
i dengan
disebut sudut polarisasi, diberi notasi
.
Jadi,




Persamaan
terakhir ini dikenal juga sebagai “hukum Brewster”; sudut polarisasi disebut
juga sudut Brewster.
C. Polarisasi Karena Pembiasan Ganda
Jika berkas kaca dilewatkan pada
kaca, kelajuan cahaya yang keluar akan sama ke segala arah. Hal ini karena kaca
bersifat homogen, indeks biasnya hanya memiliki satu nilai. Namun, pada
bahan-bahan kristal tertentu misalnya kalsit dan kuarsa, kelajuan cahaya di
dalamnya tidak seragam karena bahan-bahan itu memiliki dua nilai indeks bias
(birefringence).
Cahaya yang melalui bahan dengan
indeks bias ganda akan mengalami pembiasan dalam dua arah yang berbeda.
Sebagian berkas akan memenuhi hukum Snellius (disebut berkas sinar biasa),
sedangkan sebagian yang lain tidak memenuhi hukum Snellius (disebut berkas
sinar istimewa).

D. Polarisasi karena absorbsi selektif
Polarisasi jenis ini dapat
terjadi dengan bantuan kristal polaroid. Bahan polaroid bersifat meneruskan
cahaya dengan arah getar tertentu dan menyerap cahaya dengan arah getar yang
lain. Cahaya yang diteruskan adalah cahaya yang arah getarnya sejajar dengan
sumbu polarisasi polaroid.
Seberkas cahaya alami menuju ke
polarisator. Di sini cahaya dipolarisasi secara vertikal yaitu hanya komponen
medan listrik E yang sejajar sumbu transmisi. Selanjutnya cahaya terpolarisasi
menuju analisator. Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu
transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar sumbu analisator
diteruskan. Sehingga kuat medan listrik yang diteruskan analisator menjadi:

Jika
cahaya alami tidak terpolarisasi yang jatuh pada polaroid pertama (polarisator)
memiliki intensitas
maka
cahaya terpolarisasi yang melewati polarisator adalah:



Akan
tetapi, jika cahaya dilewatkan pada polalisator dan analisator yang dipasang
bersilangan, tidak ada intensitas cahaya yang melewati analisator. Secara umum,
intensitas yang dilewati analisator adalah

Dengan
I2 adalah intensitas cahaya yang lewat analisator. I0 adalah intensitas awal
seblummaasukpolalisator dan θ adalah sudut antara arah polarisasi polalisator
dan arah polarisasi analisator. Jika keduanya sejajar, θ = 0. jika keduanya
saling bersilangan, θ = 90°.
E. Polarisasi Karena Hamburan
Hamburan (scattering) adalah peristiwa pancaran gelombang elektromagnetik
dari getaran elektron-elektron suatu medium yang dikenai cahaya. Cahaya yang
dihamburkan in adalah resultan dari gelombangyang datang dari radiasi elektron.
Gelombang resultan ini mempunyai intensitas maksimum pada arah gelombang
datang. Pada arah ke samping berkurang sekali intensitasnya. Jika cahaya
merambat dalam gas, lebih banyak hamburan ke samping sebab elektron-elektron
gas yang bergetar berjarak besar satu sama lain dan tidak terikat seperti pada
benda rigid. Jadi elektron dalam gas berdiri sendiri tidak saling bergantung.
Cahaya yang dihamburkan kesamaping oleh partikel gas terpolarisasi sebagian
atau seluruhnya sekalipun cahaya yang datang tidak terpolarisasi.
Perhatikana
gambar di atas. Di a ada elektron yang begetar karena dikenai gelombang cahaya
alamiah dari bawah. Seorang pengamat di b menerima radiasi elektron dengan
vektor E tegak lurus bidang gambar, jadi terpolarisasi linear(
).
Sebab semua komponen tegak lurus sampai di b, sedangkan pengmaat di c dan d
menerima gelombang terpolarisasisebagaian; karena dari a kedua komponen sampai
juga di c dan d. Pengmat yang melihat cahaya yang diteruskan atau dihamburkan
ke belakang tidakdapat mengamati efek polarisasi apapun karena kedua komponen
akan memancar sama banyak pada kedua arah ini. Contohnya adalah hamburan sinar
matahari oleh molekul-molekul atmosfer bumi. Jika tidak ada atmosfer, langit
akan nampak hitam kecuali jika kita melihat langsung ke arah matahari. Jika
amati langit yang tidak berawan dengan sebuah polarisator, maka paling tidak
cahayanya akan terpolarisasi sebagian. Cahaya yang dihamburkan langit in
didominasi oleh warna biru, maka dari itu warna langit yang cerah adlah biru.
Dan warna langit senja hari didominasi warna merah sehingga langit berwarna
meah. Frekuensi warna biru adalah sesuai dengan frekuensi dari getaran elektron
dan koponen yang tegak lurus ( dilihat dari b) . sedangkan pada tempat-tempat
yang miring, terdapat campuran komponen sehingga warna berkurang, semakin
miring ke bawah makin ke arah frekuensi warna merah.s

BAB
III KESIMPULAN
1.
Polarisasi adalah keadaaan (orientasi) bidang getar dari
(medan listrik), Cahaya yang terpolarisasi (
cahaya alamiah) memiliki orinetasi E ke
segala arah.

2.
Arah ini dapat
diuraikan menjadi 2, yitu komponen sejajar bidang jatuh dan tegak urus bidang
jatuh dengan notasi
dan
.


3.
Hukum snellius untuk
refleksi dan refraksi memberikan keterangan mengeenaiarah dari sinar-sinar
refleksi dan refraksi. Akan tetapi hukum tersebut tidak dapt menerangkan
apa-apa mengenai intensitas dari sinar-sinar refleksi dan refraksi.
4.
Pada bahan-bahan
kristal tertentu misalnya kalsit dan kuarsa, kelajuan cahaya di dalamnya tidak
seragam karena bahan-bahan itu memiliki dua nilai indeks bias (birefringence).
5.
Jika berkas kaca
dilewatkan pada kaca, kelajuan cahaya yang keluar akan sama ke segala arah.
6.
Hamburan (scattering) adalah peristiwa pancaran
gelombang elektromagnetik dari getaran elektron-elektron suatu medium yang
dikenai cahaya.
DAFTAR PUSTAKA
Sarojo,Ganijanti Aby.2011.Gelombang dan Optik.Jakarta:SalembaTeknika
Halliday,David.1984.Physics.Bandung: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar